TEKNIK
MANAJAMEN WAKTU
Pengertian
Manajemen Waktu
Waktu itu ibarat uang, sangatlah berharga. Tapi bedanya,
uang bisa saja kita dapatkan kembali jika hilang atau mungkin kita bisa
mendapatkan gantinya, sedangkan waktu yang hilang sampai kapanpun tidak akan
pernah bisa kembali.
Lalu sudah seberapa maksimalkah kita memanfaatkan waktu kita
yang berharga ini ? Kebanyakan dari kita hanya menghabiskan waktu dengan
sia-sia dan akhirnya menyesal. Sebenarnya jika kita ingin mengatur kehidupan kita,
merubahnya menjadi menyenangkan itu mudah saja, yang kita butuhkan adalah
mengatur waktu kita sebaik-baiknya. Pengaturan waktu yang efektif merupakan hal
yang mendasar untuk lingkup berbagai wilayah kehidupan.
Lalu
apa itu manajemen waktu ?
Manajemen waktu merupakan perencanaan, pengorganisasian,
penggerakan, dan pengawasan produktivitas waktu. Waktu menjadi salah satu sumber daya
unjuk kerja.
Sumber daya yang mesti dikelola secara efektif dan
efisien. Efektifitas terlihat dari tercapainya tujuan manajemen waktu yang
telah ditetapkan sebelumnya.Dan efisien tidak lain mengandung dua makna,yaitu:
makna pengurangan waktu yang ditentukan, dan makna investasi waktu menggunakan
waktu yang ada.
Pentingnya
Manajemen Waktu
Mengapa kita perlu memanajemen waktu kita sebaik mungkin ?
Selain karena waktu itu sangat berharga, ada beberapa alasan lainnya,
diantaranya :
o
Manajemen
waktu membantu kita untuk berkerja lebih efektif dengan skala prioritas.
o
Manajemen
waktu menjauhkan kita dari stress kita dapat mengontrol setiap tugas dan
tenggat waktunya
o
Manajemen
waktu membuat kita lebih produktif (dapat menghindari hambatan dan gangguan
yang menghalangi dari tujuan.
Prinsip
Manajemen Waktu
Untuk dapat mengelola waktu dengan tepat, maka diperlukan
pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar manajemen waktu agar lebih berhasil dan
berdaya guna. Berikut ini prinsip dasar manajemen waktu yang penting
diperhatikan :
o
Sediakan
waktu untuk perencanaan dan menetapkan prioritas
o
Selesaikan
tugas berprioritas tinggi sesegera mungkin dan tuntaskan tugas sebelum mulai
tugas yang lain.
o
Prioritaskan
kembali tugas yang tersisa berdasarkan informasi baru yang terkait.
Sumber :
SKALA PRIORITAS
Skala
Prioritas adalah tingkat-tingkat yang memiliki
kriteria tertentu atas segala sesuatu yang diutamakan.
Berikut adalah beberapa
hal-hal yang mempengaruhi Skala Prioritas :
1) Tingkat
Urgensinya, yang mana yang harus didahulukan
2) Kesempatan
yang dimiliki
misalnya : obat, saat sakit menjadi hal
utama dan yang lain menjadi hal kedua
3) Pertimbangan
Masa deman, agar masa depan gemilang kita perlu mendapatkan pendidikan maka
dari itu pendidikan beserta pelengkapnya harus di utamakan juga
4) Kemampuan
diri
5) Tingkat
pendapatan
6) Status
Sosial
7) Lingkungan
Tiga
Kategori Prioritas Waktu
1)
Jangan
dikerjakan
2)
Kerjakan
Nanti
3)
Kerjakan
Sekarang
|
1.
|
Jangan Dikerjakan
|
|
|
2.
|
Dikerjakan Nanti
|
Alasan penundaan tugas :
|
|
3.
|
Dikerjakan Sekarang
|
Kebutuhan unit operasional harian
Kegiatan-kegiatan yang telah
ditunda, misal :
|
Tabel 1 Kategori Prioritas Waktu
DELEGASI
Delegasi
adalah suatu pelimpahan wewenang dan tanggung jawab formal kepada orang lain
untuk melaksanakan kegiatan tertentu. Ada alasan mengapa diperlukan
pendelegasian, yaitu sebagai berikut :
1.
Memungkinkan atasan dapat mencapai
lebih dari pada mereka menangani setiap tugas sendiri.
2.
Agar organisasi dapat berfungsi
lebih efisien.
3.
Atasan dapat memusatkan tenaga
kepada suatu tugas yang lebih diprioritaskan.
4.
Dapat mengembangkan keahlian bawahan
sebagai suatu alat pembelajaran dari kesalahan.
5.
Karena atasan tidak mempunyai
kemampuan yang dibutuhkan dalam pembuatan keputusan.
Dibawah ini adalah prinsip – prinsip
klasik yang dapat dijadikan dasar untuk delegasi yang efektif :
1.
Prinsip scalar.
2.
Prinsip kesatuan perintah.
3.
Tanggung jawab, wewenang, dan
akuntabilitas.
Yang memungkinkan gagalnya delegasi, yaitu:
1.
Atasan merasa lebih jika mereka
tetap mempertahankan hak pembuatan keputusan.
2.
Atasan tidak ingin ambil resiko
kalau saja bawahannya salah ataupun gagal dalam menjalankan wewenangnya.
3.
Atasannya kurang atau tidak percaya
kepada bawahannya.
4.
Atasan takut apabila seorang bawahannya
melakukan tugas dengan sangat baik dan efektif, sehingga dapat mengancam
posisinya sebagai atasan.
5.
Bawahan tidak menerima dengan alasan
dapat menambah tanggung jawab yang sudah diterima.
6.
Bawahan takut tidak dapat
menjalankan tugas – tugas dengan benar dan dikatakan gagal.
7.
Bawahan merasa tertekan apabila
dilimpahkan tanggung jawab yang lebih besar.
Sumber : (http://satriagosatria.blogspot.com/2009/12/pengertian-delegasi.html)
ASERTIF
Asertif
dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menyatakan diri dengan tulus, jujur,
jelas, tegas, terbuka, sopan, spontan, apa adanya, dan
tepat tentang keinginan, pikiran, perasaan dan emosi
yang dialami, apakah hal tersebut yang dianggap menyenangkan ataupun mengganggu
sesuai dengan hak-hak yang dimiliki dirinya tanpa merugikan,
melukai, menyinggung, atau mengancam hak-hak,
kenyamanan, dan integritas perasaan orang lain. Perilaku
asertif tidak dilatarbelakangi maksud-maksud tertentu, seperti untuk
memanipulasi, memanfaatkan, memperdaya atau pun mencari keuntungan dari pihak
lain.
Inti dari perilaku asertif adalah kejujuran, yaitu
cara hidup atau bentuk komunikasi yang berlandaskan kepada kejujuran dari hati
yang paling dalam sebagai bentuk penghargaan pada orang lain, dalam cara-cara
yang positif dan menetap, yang dicirikan dengan kemampuan untuk mengekspresikan
diri tanpa menghina, melukai, mencerca, menyingung, atau menyakiti perasaan
orang lain, mampu mengontrol perasaan diri sendiri tanpa rasa takut dan marah.
Dalam kehidupan atau komunikasi sehari-hari, orang yang asertif akan
lebih memilih pola interaksi “I’m okay,
you’re okay” atau menggunakan
pernyataan-pernyataan yang lebih mencerminkan tangungjawab pribadi, seperti penggunaan kata-kata ”saya” dari pada ” ” atau ”kamu”. Misalnya, ”saya sedih, marah, dan malu ketika saya tahu ...” dari pada ”kamu pembohong, tidak disiplin, dan tidak dapat dipercaya karena ....”.
pernyataan-pernyataan yang lebih mencerminkan tangungjawab pribadi, seperti penggunaan kata-kata ”saya” dari pada ” ” atau ”kamu”. Misalnya, ”saya sedih, marah, dan malu ketika saya tahu ...” dari pada ”kamu pembohong, tidak disiplin, dan tidak dapat dipercaya karena ....”.
Dengan demikian, orang yang asertif akan memiliki
kebebasan untuk meluapkan perasaan apa pun yang dirasakan, dan
berani mengambil tanggung jawab terhadap perasaan yang dialaminya
dan menerima orang lain secara terbuka. Memiliki keberanian untuk tidak
membiarkan orang lain mengambil manfaat dari perasaan yang
dialaminya, tetapi orang lain pun memiliki kebebasan untuk mengungkap apa
yang dirasakannya.
Perilaku asertif dapat dengan mudah dipahami bila dibandingkan
dengan perilaku non asertif, baik yang sifatnya pasif
atau agresif. Dalam perilaku pasif, seseorang tidak
memberikan reaksi atau mengekspresikan perasaan negatif yang dialaminya
secara jujur dan terbuka, tetapi dilakukan dengan menyimpan
perasaannya tersebut, menarik diri, menerima, atau menggerutu. Perilaku
non asertif-pasif hakekatnya adalah bentuk ketidakjujuran emosi,
kegagalan diri atau kekalahan diri yang didasari oleh perasaan-perasaan takut,
cemas, mengindari konflik, keinginan untuk mencari jalan keluar paling mudah,
dan bahkan ketidakmampuan untuk memahami diri dan memenuhi kebutuhan untuk
bersikap sabar. Pola komunikasi yang berkembang pada kelompok
nonasertif-pasif adalah “I’m not okay, you’re okay”.
Sedangkan pada perilaku nonasertif-agresif, reaksi yang diberikan diekspresikan keluar dan dilakukan secara terbuka melalui tindakan aktif berupa pengancaman atau penyerangan, dilakukan secara langsung atau tidak langsung, baik dalam bentuk fisik atau verbal. Tindakan yang dilakukan secara langsung, misalnya marah-marah, memukul, menuntut, dominan, egois, menyerang, dsb. Sedangkan tindakan tidak langsung, misalnya dengan menyindir, menyebar gosip, dsb. Tindakan agresif ini biasanya sengaja dilakukan dengan maksud untuk melukai, melecehkan, menghina, mempermalukan, menyakiti, merendahkan dan bahkan menguasai pihak lain. Dalam pola komunikasi mereka cenderung menggunakan pola “You’re not okay, I’m okay”.
Sedangkan pada perilaku nonasertif-agresif, reaksi yang diberikan diekspresikan keluar dan dilakukan secara terbuka melalui tindakan aktif berupa pengancaman atau penyerangan, dilakukan secara langsung atau tidak langsung, baik dalam bentuk fisik atau verbal. Tindakan yang dilakukan secara langsung, misalnya marah-marah, memukul, menuntut, dominan, egois, menyerang, dsb. Sedangkan tindakan tidak langsung, misalnya dengan menyindir, menyebar gosip, dsb. Tindakan agresif ini biasanya sengaja dilakukan dengan maksud untuk melukai, melecehkan, menghina, mempermalukan, menyakiti, merendahkan dan bahkan menguasai pihak lain. Dalam pola komunikasi mereka cenderung menggunakan pola “You’re not okay, I’m okay”.
Dengan kata lain, seseorang dikatakan bersikap
non-asertif, jika ia gagal
mengekspresikan perasaan, pikiran dan pegangan/keyakinannya secara tulus, jujur, sopan, dan apa adanya tanpa maksud untuk merendahkan hak-hak atau mengancam integritas perasaan orang lain, sehingga justru menimbulkan respon dari orang lain yang tidak dikehendaki atau negatif.
mengekspresikan perasaan, pikiran dan pegangan/keyakinannya secara tulus, jujur, sopan, dan apa adanya tanpa maksud untuk merendahkan hak-hak atau mengancam integritas perasaan orang lain, sehingga justru menimbulkan respon dari orang lain yang tidak dikehendaki atau negatif.
Karakteristik Orang Yang Asertif
Secara umum, orang yang asertif dicirikan
dengan sikapnya yang terbuka, jujur, sportif, adaptif, aktif, positif,
dan penuh penghargaan terhadap diri sendiri maupun orang lain. Beberapa ciri
lain, diantaranya adalah:
1) Mampu mengekspresikan pikiran, perasaan,
dan kebutuhan dirinya, baik secara verbal maupun non
verbal secara bebas, tanpa perasaan takut, cemas, dan khawatir.
2) Mampu menyatakan “tidak” pada hal-hal
yang memang dianggap tidak sesuai dengan kata hati atau nuraninya.
3) Mampu menolak permintaan yang dianggap tidak masuk
akal, berbahaya, negatif, tidak diinginkan, atau dapat merugikan orang lain.
4) Mampu untuk berkomunikasi
secara terbuka, langsung, jujur, terus terang
sebagaimana mestinya
5) Mampu menyatakan perasaannya secara jelas,
tegas, jujur, apa adanya, dan sopan.
6) Mampu untuk meminta tolong pada orang
lain pada saat kita memang
membutuhkan pertolongan.
membutuhkan pertolongan.
7) Mampu mengekspresikan kemarahan, ketidak setujuan,
perbedaan pandangan secara proporsional.
8) Tidak mudah tersingung, sensitif, dan emosional.
9) Terbuka untuk ruang kritik.
10) Mudah berkomunikasi, hangat, dan menjalin hubungan
sosial dengan baik.
11) Mampu memberikan pandangan secara
terbuka terhadap hal-hal yang tidak
sepaham.
sepaham.
12) Mampu meminta bantuan, pendapat, atau pandanganngan
orang lain ketika sedang
menghadapi masalah.
menghadapi masalah.
Sumber : (Makalah "Latihan
Asertif", Sunardi. PLB UPI, 2010)
Perilaku asertif Menurut Beberapa
Ahli
1)
Menurut Pratanti (2007) sikap atau
pun perilaku agresif cenderung akan merugikan pihak lain karena
seringkali bentuknya seperti mempersalahkan, mempermalukan, menyerang (secara
verbal ataupun fisik), marah-marah, menuntut, mengancam, sarkase (misalnya
kritikan dan komentar yang tidak enak didengar), sindiran ataupun sengaja
menyebarkan gosip.
2)
Menurut Lazarus (Fensterheim, l980)
dalam Iriani (2009) perilaku asertif mengandung suatu tingkah laku yang penuh
ketegasan yang timbul karena adanya kebebasan emosi dan keadaan efektif yang
mendukung yang antara lain meliputi :
a.
menyatakan hak-hak pribadi.
b.
berbuat sesuatu untuk mendapatkan
hak tersebut
c.
melakukan hal tersebut sebagai usaha
untuk mencapai kebebasan emosi.
Seseorang dikatakan bersikap tidak
asertif, jika ia gagal mengekspresikan perasaan, pikiran dan
pandangan/keyakinannya; atau jika orang tersebut mengekspresikannya sedemikian
rupa hingga orang lain malah memberikan respon yang tidak dikehendaki atau
negatif (Pratanti, 2009).
Perilaku asertif merupakan
terjemahan dari istilah assertiveness
atau assertion, yang artinya titik tengah antara perilaku non asertif dan perilaku
agresif. Orang yang memiliki tingkah laku atau perilaku asertif orang
yang berpendapat dari orientasi dari dalam, yaitu sebgahi berikut :
a.
Memiliki kepercayan diri yang baik.
b.
Dapat mengungkapkan pendapat dan
ekspresi yang sebenarnya tanpa rasa takut.
c.
Berkomunikasi dengan orang lain
secara lancar.
Sebaliknya
orang yang kurang asertif adalah
mereka yang memiliki ciri - ciri a). terlalu mudah mengalah/ lemah, b). mudah
tersinggung, cemas, c). kurang yakin pada diri sendiri, d). sukar mengadakan
komunikasi dengan orang lain
Menurut
Sukaji (1983) dalam Fitri (2009) perilaku asertif adalah perilaku
seseorang dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut ekspresi emosi yang
tepat, jujur, relatif terus terang, dan tanpa perasaan cemas terhadap orang
lain. Perilaku asertif merupakan perilaku sesorang dalam mempertahankan hak
pribadi serta mampu mengekspresikan pikiran, perasaan, dan keyakinan secara
langsung dan jujur dengan cara yang tepat. Perilaku asertif sebagai
perilaku antar pribadi yang bersifat jujur dan terus terang dalam
mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan mempertimbangkan pikiran dan
kesejahteraan orang lain.
Orang yang memiliki tingkah laku asertif adalah mereka yang menilai bahwa oraang boleh berpendapat dengan orientasi dari dalam, dengan tetap memperhatikan sungguh-sungguh hak-hak orang lain.Mereka umumnya memiliki kepercayaan diri yang kuat.
Menurut Rathus (l986) orang yang asertif adalah orang yang mengekspresikan perasaan dengan sungguh-sungguh, menyatakan tentang kebenaran. Mereka tidak menghina, mengancam ataupun meremehkan orang lain. Orang asertif mampu menyatakan perasaan dan pikirannya dengan tepat dan jujur tanpa memaksakannya kepada orang lain (Iriani, 2009).
Tips
untuk berperilaku asertif yang
dapat digunakan adalah (Pratanti, 2007)
Tentukan
sikap yang pasti, apakah anda ingin menyetujui atau tidak. Jika kamu belum
yakin dengan pilihan anda, maka anda bisa minta kesempatan berpikir sampai
mendapatkan kepastian.
1)
Berikan
penjelasan atas penolakan anda secara singkat, jelas, dan logis. Penjelasan
yang panjang lebar hanya akan mengundang argumentasi pihak lain.
2)
Gunakan
kata-kata yang tegas, seperti secara langsung mengatakan “tidak” untuk
penolakan, dari pada “sepertinya saya kurang setuju..sepertinya saya kurang
sependapat…saya kurang bisa…..”
3)
Pastikan
pula, bahwa sikap tubuh anda juga mengekspresikan atau mencerminkan “bahasa”
yang sama dengan pikiran dan verbalisasi anda …Seringkali orang tanpa sadar
menolak permintaan orang lain namun dengan sikap yang bertolak belakang,
seperti tertawa-tawa dan tersenyum.
4)
Gunakan
kata-kata “Saya tidak akan….” atau “Saya sudah memutuskan untuk…..” dari
pada “Saya sulit….”. Karena kata-kata “saya sudah memutuskan untuk….” lebih
menunjukkan sikap tegas atas sikap yang anda tunjukkan.
5)
Jika
anda berhadapan dengan seseorang yang terus menerus mendesak anda padahal anda
juga sudah berulang kali menolak, maka alternatif sikap atau tindakan yang
dapat anda lakukan : mendiamkan, mengalihkan pembicaraan, atau bahkan
menghentikan percakapan.
6)
Anda
tidak perlu meminta maaf atas penolakan yang anda sampaikan (karena anda
berpikir hal itu akan menyakiti atau tidak mengenakkan buat orang
lain)…Sebenarnya, akan lebih baik anda katakan dengan penuh empati seperti :
“saya mengerti bahwa berita ini tidak menyenangkan bagimu…..tapi secara terus
terang saya sudah memutuskan untuk …
7)
Janganlah
mudah merasa bersalah ! anda tidak bertanggung jawab atas kehidupan orang
lain…atau atas kebahagiaan orang lain.
8)
Anda
bisa bernegosiasi dengan pihak lain agar kedua belah pihak mendapatkan jalan
tengahnya, tanpa harus mengorbankan perasaan, keinginan dan kepentingan
masing-masing.
Kategori Perilaku Asertif
Prinsip dan bentuk asertif antara lain:
1) Pada
prinsipnya asertif adalah
kecakapan orang untuk berkata tidak, untuk meminta bantuan atau minta tolong
orang lain
2) Kecakapan
untuk mengekspresikan perasaan-perasaan positif maupun negativ
3) kecakapan untuk melakukan inisiatif dan memulai
pembicaraan.
Ada 3 kategori perilaku asertif yaitu :
1) Asertif
penolakan yaitu ucapan untuk memperhalus, seperti misalnya : maaf !
2) Asertif
pujian yaitu mengekspresikan perasaan positif, seperti misalnya menghargai,
menyukai, mencintai, mengagumi, memuji dan bersyukur
3) Asertif
permintaan yaitu asertif yang terjadi kalau seseorang meminta orang lain
melakukan sesuatu yang memungkinkan kebutuhan atau tujuan seseorang tercapai
tanpa tekanan atau paksaan.
Sumber
: (http://zhalabe.blogspot.com/2012/01/perilaku-asertif.html#.UutC9fszWKE)